Update Berita Terbaru 2019

Tuesday, January 22, 2019

On January 22, 2019 by mirajudin in , , ,    No comments

Ditetapkannya kecanduan game oleh World Health Organization (WHO) sebagai salah satu penyakit mental membuat sejumlah pengembang game angkat suara. Dilansir dari Japan Today, mereka berharap bahwa penyakit kecanduan bermain game itu tidak diterapkan secara formal sebagai penyakit.

Sebelumnya, setelah melakukan penelitian selama bertahun-tahun, pada 2018 lalu WHO memasukkan kecanduan bermain game sebagai salah satu masalah mental. Masuknya kecanduan game sebagai penyakit, bisa berpengaruh pada peraturan pemerintah yang mungkin muncul terhadap kebijakan kesehatan serta asuransi.

Menyikapi hal ini, sejumlah pelaku industri game di Amerika Serikat pada bulan lalu membahasnya bersama WHO di Jenewa. Dari pertemuan itu didapat beberapa hasil yang mampu menguntungkan kedua pihak.

"Harapan kami dapat melanjutkan dialog ini agar WHO tidak terburu-buru dalam membuat keputusan yang salah dan butuh bertahun-tahun untuk membereskannya," ujar ketua Entertainment Software Association (ESA), Stanley Pierre-Louis.

ESA berharap bakal dilakukan lebih banyak pembicaraan dan edukasi terlebih dahulu sebelum klasifikasi penyakit karena game ini dituntaskan.

WHO sendiri menjelaskan penyakit ini adalah ketika kebiasaan bermain game ini mengambil kehidupan seseorang selama bertahun-tahun. Hal ini membuat aktivitas mereka yang lain jadi terganggu dan terhambat. Selanjutnya kebiasaan bermain game ini bisa meningkat dan bertambah seiring waktu sehingga menimbulkan konsekuensi negatif.

Diungkapkan bahwa bakal kembali dilakukan pembicaraan pada tahun depan dengan sejumlah perwakilan industri. Namun tidak disebut bakal ada kolaborasi lebih lanjut dengan pembuat game dari diskusi ini.

Penetapan kecanduan game sebagai penyakit ini bakal memaksa negara anggota WHO untuk melaporkan adanya penyakit ini pada 2020. Selanjutnya dari data ini akan dibuat statistik kesehatan secara global.

0 comments:

Post a Comment