Update Berita Terbaru 2020

Thursday, May 14, 2020

On May 14, 2020 by mirajudin in , ,    No comments

Usia yang senja memang lebih cocok dinikmati untuk beristirahat dan berkumpul bersama orang-orang tersayang. Kita tidak perlu repot memasak, membersihkan rumah, bahkan mencari nafkah. Tinggal duduk manja di atas sofa sambil momong cucu dan menikmati teh hangat yang sudah terhidang di atas meja. Dengan aktivitas seperti ini, lansia pun akan hidup lebih tenang dan nyaman.

Namun, nasib baik kurang berpihak pada Mbah Sariah. Alih-alih mendapatkan kenikmatan seperti lansia pada umumnya, ia masih harus banting tulang seorang diri. Kulitnya yang sudah keriput tak jarang terbakar sinar matahari. Namun, ia tetap gigih berjualan dengan bermodalkan satu helai karung bekas sebagai alas berjualan.

Sosok Mbah Sariah

Banyak orang yang memanggilnya Mbah Sariah. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah mungil di Slautan Gg. Balai Desa No 80 RT 18, Sidoarjo, Jawa Timur. Saat menanyakan umurnya, Mbah Sariah pun hanya tertawa kecil. Ia sendiri tidak tahu berapa usianya sekarang. Namun, jika dilihat dari perawakannya, Mbah Sariah terlihat seperti berusia 80 tahun ke atas. 

Selain lupa mengenai umurnya, ia juga kerap tidak nyambung saat ditanya mengenai keluarganya. Katanya, ia tidak menikah seumur hidupnya, dan otomatis tidak punya anak. Namun, setelah itu Mbah sariah memberitahu bahwa ia memiliki cucu. Siapapun yang mendengarnya tentu akan memberikan permakluman. Di usianya yang mulai renta, ingatannya dan kemampuan berkomunikasinya sudah mulai menurun.

Mbah Sariah rutin berjualan sewek dan sarung perempuan tepat di depan Toko Es Dawet di Pasar Larangan. Penghasilan yang didapatkan setiap harinya tidak menentu. Untuk satu buah sarungnya, ia mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 2500. Jika dagangannya laku, Mbah Sariah bisa mendapatkan keuntungan banyak, begitupun sebaliknya. 

Karena tubuhnya yang sudah tidak bugar lagi, ia tidak mungkin berjalan kaki untuk pergi berjualan. Setiap hari, Mbah Sariah menggunakan transportasi umum untuk menuju Pasar Larangan. Namun, itu pun jika ia mendapatkan keuntungan dari jualannya.

Kebaikan untuk Mbah Sariah

Semangatnya tidak lantas surut meskipun usianya semakin menua. Mbah Sariah tetap gigih mencari sesuap nasi untuk dirinya sendiri. Ia pantang meminta-minta karena merasa masih mampu untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Melihat kondisi seperti ini, hati siapa yang tidak tergerak untuk memulai kebaikan pada sesama. 

Allianz bisa membantu kita untuk #AwaliDenganKebaikan. Caranya mudah, cukup menjadi peserta produk asuransi syariah AlliSya Protection Plus, kita sudah bisa memberikan kebaikan pada orang-orang tersayang. Ada berbagai jenis perlindungan jiwa maupun kesehatan, sehingga kita tidak perlu khawatir dengan kondisi di masa mendatang.

Asuransi Syariah Indonesia Allianz juga memberi kesempatan bagi kita semua untuk menebarkan kebaikan, baik itu besar maupun kecil. Rezeki yang kita miliki bisa disalurkan melalui fitur wakaf dan diserahkan kepada peserta lain yang lebih membutuhkan. Dengan berbagai kebaikan yang kita berikan, akan ada banyak orang yang bisa merasakan manfaatnya. Kita tentu saja patut bersyukur jika masih diberi kesempatan untuk selalu berbuat baik.

Kebaikan bisa kita lakukan kapan saja dan kepada siapa saja. Oleh karena itu, mulailah menebar kebaikan, minimal dari diri sendiri. Kebaikan yang kita tebarkan bisa membantu sosok-sosok seperti Mbah Sariah untuk mendapatkan kebaikan lainnya, seperti paket umroh gratis yang diselenggarakan Allianz. Oleh karena itu, tebar manfaat sebanyak-banyaknya agar hidup ini penuh dengan kebaikan.